Jumat, 05 September 2014

Telaga Madirdo



Telaga Madirdo merupakan danau kecil yang airnya bersumber dari mata air di lereng Gunung Lawu. Telaga tersebut menjadi tumpuan kehidupan warga karena airnya yang tak pernah surut meski musim kemarau dan tak pernah penuh di saat musim penghujan. Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, disanalah telaga ini terhampar. Jarak telaga ini dari Balai Desa Berjo sekitar 4 kilometer dan dapat ditempuh dengan cukup mudah.
Telaga ini memiliki potensi yang layak untuk di kembangkan menjadi obyek wisata unggulan bagi Desa Berjo sebagaimana yang diimpikan warga Berjo pada umumnya. Telaga Madirdo sebenarnya cukup di kenal oleh wisatawan yang memasuki Desa Berjo terutama wisatawan yang mencoba memperlajari keanekaragaman potensi wisata yang ada di Kabupaten Karanganyar,
Hal itu dikarenakan telaga ini termasuk dalam jalur Golden Tracking Sukuh-Grojogan Sewu. Dimana keberadaanya sangat berdekatan dengan berbagai obyek wisata seperti situs Watu Bonang, Situs Planggatan, Candi Sukuh dan Grojogan Sewu.
Dengan posisinya yang demikian, masyarakat meyakini telaga ini bisa dikembangkan menjadi obyek wisata andalan. Bukan tidak mungkin akan seterkenal Telaga Sarangan di Magetan Jawa Timur. Dengan posisinya itu bahkan telaga ini bisa menjadi gerbang utama untuk menuju berbagai kawasan obyek wisata di Kabupaten Karanganyar.



RUTE JALAN

Tlogo Madirdo tepatnya terletak di Dusun Tlogo, Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar. Walaupun terletak di lereng Gunung Lawu dengan ketinggian sekitar 900 m di atas permukaan air, letak potensi obyek wisata ini cukup strategis. Hal itu mengingat kedekatannya dengan obyek wisata andalan Kabupaten Karanganyar yang lain, seperti Grojogan Sewu, Situs Planggatan, Candi Sukuh, obyek Wisata Air Terjun Jumok, Parangijo dan Candi Cetho. Di sepanjang jalan menuju menuju Tlogo Madirdo, juga telah berkembang berbagai rumah makan, yakni yang menghampar di sepanjang jalur Karangpandan – Karanganyar. Jarak anatara Karangpandan dengan obyek wisata Tlogo Madirdo kurang lebih sekitar 5 kilometer.
Untuk mencapai Tlogo Madirdo dapat dilakukan melalui dua jalur utama dan satu jalur alternatif. Yang pertama melalui pintu gerbang arah Candi Sukuh dan Candi Cetho, serta menuju Air Terjun Jumok, yang juga berada di Kecamatan Ngargoyoso. Jarak dari pintu gerbang ini kurang lebih sepanjang 7 kilometer. Karena berada di lereng Gunung Lawu, maka kondisi jalan untuk menuju ke Telaga Madirdo memang cukup terjal dan berkelak-kelok. Meski demikian kondisi jalan ini masih cukup nyaman untuk dilalui baik oleh kendaraan pribadi maupun dengan sepeda motor. Sementara angkuta umum yang melalui rute ini adalah bus jurusan Karangpandan – Ngargoyoso.
Sedangkan jalur kedua, untuk menuju Tlogo Madirdo, adalah melalui Desa Karang, yang berada pada kilometer 34 jalan raya Solo-Tawangmangu. Jalur ini merupakan jalur yang cukup berkembang karena juga merupakan gerbang utama menuju kawasan Agro Wisata Amanah yang jaraknya kurang lebih 1,5 kilomter dari jalan raya Solo-Tawangmangu.
Dari pintu gerbang Amanah untuk menuju Tlogo Madirdo harus melalui jalan kabupaten dan jalan desa, kurang lebih sepanjang 5 kilometer. Kondisi jalan tak jauh berbeda denga jalur pertama, cukup terjal dan berkelok-kelok. Sementara jalur ketiga adalah melalui rute Grojogan Sewu, yaitu melalui jalan desa Tengklik Tawangmangu – ke arah Desa Berjo menuju Tlogo Madirdo. Rute ini adalah jalur alternatif dari arah Grojogam Sewu -Tawangmangu.
 


Sejarah

Pada suatu ketika, tersebutlah seorang resi sakti mandraguna bernama Gutama yang tinggal di Pertapaan Agrastina. Kerena kesaktiannya, Resi Gutama pernah membantu para dewa menyelamatkan kahyangan, dan atas jasanya ini, Batara Guru menghadiahi sang resi seorang bidadari bernama Dewi Indradi (Windradi) sebagai istrinya. Walalupun Dewi Indradi sebenarnya lebih menyukai Batara Surya (Dewa Matahari), dia menerima Resi Gutama sebagai suaminya.
Sebelum menikah, Batara Surya menghadiahi Dewi Indradi sebuah mustika bernama Cupu Manik Astagina. Cupu adalah suatu wadah berbentuk bundar kecil terbuat dari kayu atau logam, sedang manik adalah permata. Kesaktian Cupu Manik Astagina adalah dapat memperlihatkan tempat-tempat di dunia tanpa harus mendatanginya.


Telaga kecil di lereng Gunung Lawu yang sejuk.


Cermin. Dengan air yang sangat jernih, memantulkan apa yang ada diatasnya, tapi jika di dekati, dasar telaga dapat terlihat jelas.


Pijakan. Beberapa batuan di pinggir telaga. Sering digunakan oleh penduduk sekitar untuk pijakan saat mandi di telaga yang jernih ini.
Sebelum menikah Batara Surya menghadiahi Dewi Indradi sebuah mustika bernama Cupu Manik Astagina. Kesaktian Cupu Manik Astagina adalah dapat memperlihatkan tempat-tempat di dunia tanpa harus mendatanginya.
Pernikahan Resi Gutama dan Dewi Indradi menghasilkan tiga orang anak. Anak pertama perempuan bernama Anjani, anak kedua dan ketiga kembar, bernama Guwarsi dan Guwarsa.
Suatu ketika, Dewi Indradi memberikan Cupu Manik Astagina kepada Anjani. Ini membuat iri dua saudaranya, Guwarsi dan Guwarsa. Ketiga bersaudara ini pun bertengkar memperebutkannya. Keributan ini lalu didengar oleh ayah mereka. Resi Gutama lalu bertanya kepada Dewi Indradi, darimana dia memperoleh cupu itu. Dewi Indradi yang telah dipesan oleh Batara Surya untuk merahasiakan pemberiannya, hanya diam saja. Ini membuat marah Resi Gutama yang lalu mengutuk Dewi Indradi menjadi batu.


Cupu Manik Astagina lalu dibuang dilempar oleh Resi Gutama. Tempat jatuhnya cupu itu menjelma menjadi sebuah telaga indah dengan air yang sangat jernih, yang kemudian dikenal dengan nama Telaga Madirda. Tiga bersaudara, Anjani, Guwarsi, dan Guwarsa yang baru saja kehilangan ibu mereka, masih saja menurutkan hawa nafsunya berebut mustika itu dan terus mencarinya. Ketika sampai di Telaga Madirda, mereka mengira cupu itu ada di dasarnya. Guwarsi dan Guwarsa yang menyelam ke dalam telaga, ketika keluar berubah menjadi manusia kera. Sedangkan Anjani yang hanya memasukkan wajah dan tangannya, hanya kepala dan tangannya saja yang menyerupai kera. Mereka kemudian menjadi menjadi bangsa Wanara, manusia (nara) yang tinggal dihutan (wana), atau bangsa manusia kera.
Cupu Manik Astagina lalu dibuang dilempar oleh Resi Gutama. Tempat jatuhnya cupu itu menjelma menjadi sebuah telaga indah dengan air yang sangat jernih, yang kemudian dikenal dengan nama Telaga Madirda.

Ikan. Di telaga ini banyak terdapat ikan-ikan besar yang berenang bebas dan tidak ada yang menangkapnya.

Bermain. Anak-anak desa bermain mencari ikan di sekitar telaga (bukan di dalam telaga). Aliran air di luar telaga memang sebagian digunakan untuk budidaya ikan.

Air. Selain untuk budidaya ikan, air telaga yang jernih juga dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk pengairan, air minum, mandi, dan keperluan lainnya.
Untuk menyucikan diri, dengan petunjuk ayah mereka, mereka bertiga bertapa ditempat yang berbeda. Guwarsi dan Guwarsa yang telah berganti nama menjadi Subali dan Sugriwa masing-masing bertapa di Gunung dan Hutan Sunyapringga. Sedang Anjani di Telaga Madirda, bertapa nyantolo atau berendam seperti katak. Kutukan kepada Anjani akan berakhir setelah dia melahirkan seorang anak titisan Siva. Dengan pertapaannya yang sunguh-sungguh, akhirnya Siva mengabulkannya, melalui makanan yang diterbangkan Batara Bayu (Dewa Angin) kepada Anjani. Anjani memakan makanan tersebut, lalu lahirlah seorang wanara paling perkasa, kera putih bernama Hanuman.
Sedang Anjani di Telaga Madirda, bertapa nyantolo, atau berendam seperti katak. Kutukan kepada Anjani akan berakhir setelah dia melahirkan seorang anak titisan Siva. Akhirnya Siva mengabulkannya, melalui makanan yang diterbangkan Batara Bayu (Dewa Angin) kepada Anjani. Anjani memakan makanan tersebut, lalu lahirlah seorang wanara paling perkasa, kera putih bernama Hanuman.
Hanoman dan dua pamannya, Subali dan Sugriwa, merupakan tokoh-tokoh penting dalam epos Ramayana. Hanoman dan Sugriwa yang membantu Rama mencari Sita dan mengalahkan Rahwana. Sedang Subali, adalah guru dari Rahwana (Dasamuka).



Cekungan. Telaga Madirda terletak di sebuah cekungan datar. Di sekitarnya adalah bukit dengan tanaman menghijau, jalan desa, dan rumah-rumah penduduk.


Konstan. Debit air di Telaga Madirda konon selalu konstan. Tidak pernah kering saat musim kemarau dan tidak banjir saat musim hujan.
 
Telaga Madirda, tempat Cupu Manik Astagina dibuang dan tempat Anjani menyucikan diri, menurut cerita rakyat, berada disini. Tepatnya di lereng barat Gunung Lawu, di Dusun Tlogo, Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah. Dengan ketinggian sekitar 900 mdpl, telaga ini memang terasa sangat sejuk, tenang, indah dan asri.
Telaga ini tidak terlalau besar, luas airnya hanya sekitar 1000 m2, terletak pada suatu cekungan datar seluas kira-kira 3000 m2. Di sekeliling telaga adalah perbukitan dengan tumbuh-tumbuhan yang menghijau dan rumah-rumah penduduk desa yang bersahaja.



Menghijau. Dengan pasokan air yang cukup, membuat kawasan disekitar telaga menjadi daerah yang subur dan menghijau.
Air Telaga Madirda sangat jernih, sehinga dasar telaga, batuan yang ada di dalamnya, dan ikan-ikan yang bebas berenang dapat telihat dengan jelas. Yang paling menarik, konon air di telaga ini tidak pernah kering dan tidak pernah berlebih. Debit airnya selalu konstan dimusim kemarau ataupun penghujan. Jadi kapanpun telaga ini dikunjungi, akan selalu terasa sejuk dan segar.
Air Telaga Madirda sangat jernih, sehinga dasar telaga, batuan yang ada di dalamnya, dan ikan-ikan yang bebas berenang dapat telihat dengan jelas. Yang paling menarik, konon air di telaga ini tidak pernah kering dan tidak pernah berlebih.

Alami. Telaga ini masih relatif alami, belum banyak fasilitas yang disediakan. Bangunan disekitarnya adalah rumah penduduk desa.



Fasilitas. Hanya ada tambahan fasilitas outbound sederhana yang biasanya malah dipakai anak-anak desa untuk bermain.
Di sekitar lokasi telaga – dalam radius beberapa kilometer – terdapat lima candi Hindu yang diperkirakan merupakan peninggalan Majapahit. Candi yang paling dekat adalah Candi Planggatan, lalu Candi Sukuh, Candi Cetho, Candi Kethek, dan Candi Menggung yang berlokasi dekat Grojogan Sewu. Keberadaan telaga ini kemungkinan masih berhubungan tradisi Hindu Majapahit. Pada setiap menjelang peringatan Nyepi, di telaga ini diadakan upacara Melasti oleh umat Hindu setempat.


Mata Air. Sekitar 10 meter diatas telaga terdapat mata air yang mengisi telaga. Selain itu, mata iar ini juga digunakan untuk mengairi sawah dan kebun penduduk disekitar telaga.




Batu Petilasan. Konon ini adalah batu petilasan tempat Dewi Anjani bertapa menyucikan diri.



Melasti. Beberapa hari sebelum Nyepi – biasanya pada hari minggu – umat Hindu disekitar Telaga Madirda mengadakan upacara Melasti, upacara penyucian menyambut Tahun Baru Saka.
Mesikpun merupakan obyek wisata alam yang sangat indah, keberadaan Telaga Madirda belum banyak diketahui orang. Papan petunjuk lokasi, fasilitas yang ada, dan informasi terkait tempat ini masih dangat minim. Satu sisi, hal ini menyulitkan orang yang ingin berkunjung. Di sisi lain, karena belum banyak pengunjung dan fasilitas buatan manusia, ke alamian tempat ini masih dapat terjaga.



KONDISI ALAM
Tlogo Madirdo sendiri berada di hamparan pelataran yang dikelilingi cekungan bukit yang menjadikan sumber air mengalir ke telaga Madirdo sehingga tak pernah kering meskipun di saat musim kemarau. Hutan pinus yang berada di bukit cukup baik sebagai resapan air yang mengalirkanya kembali ke telaga. Sementara kondisi air di Telaga Madirdo sendiri terhitung cukup jernih dan belum tercemar.
Tapak Tlogo Madirdo sendiri berupa cekungan dengan bentuk empat persegi panjang dan berukuran 150 x 200 meter. Kedalaman cekungan kurang lebih 5 meter pada sisi yang rendah dan lebih dari 20 meter dari sisi yang lebih tinggi. Pada sisi cekungan terdapat jalan desa yang mengubungkan Dukuh Tlogo (sebelah timur – utara Tlogo) serta jalan tembus menuju Tawangmangu dan obyek wisata Grojogan Sewu. Pada sekeliling cekungan ini juga berderet perbukitan hutan pinus yang di kelola oleh Perum Perhutani.


 
Saat ini, wilayah yang digenangi air di Tlogo Madirdo mencakup kurang lebih seribu meter persegi atau 30% dari luas cekungan. Kedalaman air kurang lebih 1 meter. Selain untuk keperluan mandi, air telaga juga dimanfaatkan penduduk untuk budidaya ikan, dan irigasi. Kondisi air sendiri cukup jernih dan memiliki volume air yang relatif konstan baik pada saat musim kemarau maupun pada saat musim penghujan.
Perbukitan di sekitar Telogo Madirdo memiliki potensi sumber air yang mengucurkan air secara terus-menerus dan tak pernah kering. Di sana terdapat keindahan lain seperti batu-batuan alam, flora fauna khas pegunungan dan pemandangan yang bagus ke berbagai arah.
Jenis tanaman yang berada di perbukitan sekitar Tlogo Madirdo antara lain pohon bambu, pinus, akasia, mangga, pisang, pakis dan berbagai jenis tanaman perdu, semak dan rumput. Untuk wilayah sekitar tapak, selain jenis tanaman tersebut juga terdapat jenis tanaman tahunan seperti cengkeh, kopi, tanaman pertanian dan berbagai tanaman sayuran.


POTENSI
Potensi keindahan Tlogo Madirdo belum banyak diolah. Potensi telaga dengan air cukup bersih, udara yang sejuk dan teduh, berbagai batu alam yang indah, serta keanekaragaman flora dan fauna pegunungan yang menarik, ternyata belum dibarengi dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai. Berbagai fasilitas yang ada saat ini semuanya murni swadaya masyarakat setempat dan terlihat masih relatif sederhana. Berbagai fasilitas seperti pancuran untuk mandi, tempat parker, kamar mandi dan WC umum, homestay serta pengerasan permukaan jalan, semuanya masih terkesan seadanya.





Sumber:
http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2013/01/04/refresing-gratis-di-telaga-madirdo-522121.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar